Friday, 14 March 2014

puisi santai: kerana bumi itu aku...

sumber gambar: wallpaperhi.com

"wahai manusia...kamu mahu tahu siapa aku?tak perlu tahu...kerana aku seorang pencinta sepi...aku suka bersendiri saja untuk mencari erti..."

cinta selalu menjadi ilham para pemuisi,
sebenarnya aku juga suka berfikir tentang cinta,
bukan suka saja,tapi hampir 24/7...
ohhh maafkanlah....haha
aku memang seorang yang jujur...

untuk hari indah ini,
aku sudah mampu untuk ketawa,
mungkin kerana matahari mengajak aku menari....
siapa tahu kan...

dunia ini sebenarnya sakit,
dan cinta itulah syurganya...
jika aku sakit,
aku akan duduk dan berangan tentang cinta...
siapa lagi kalau bukan putera idamanku...

beginilah aku,
semenjak kecil berangan diri ini seorang puteri,
menyanyi dan menari di tepi kolam,
menulis dan membacakan puisi,
mengusik matahari dan mengejar rama-rama terbang,
mengucup bunga dan ketawa berseorangan,
melihat langit dan mengenyit mata pada mentari,
dan duduk termenung memegang kayu sambil menyanyi apa saja lagu,
mengucap salam pada semua haiwan,
membuka paip dan menyiram pokok semua dengan gembira,
bermain air sehingga kerap dimarahi ibu,
dan menutup mata kerana hangatnya pelukan bayu...

maaf ya,
tapi inilah diriku...

sumber gambar: forums.digitalpoint.com

"sekalipun dunia riuh tentang pesawat yang hilang, aku adalah manusia yang tetap gembira berbasikal dan bermain bersama alam...kerana bumi itu aku..."




ps: lagu2  sebegini sesuai untuk seorang perempuan yang suka berangan seperti aku...haha

9 comments:

puteri jalanan a.k.a annur said...

jom baca apa yang annur copy paste kat blog orang lain...ya,sekadar bacaan kosong...so apalagi?layannnnn....

"Shinta sangat yakin, kobaran api yang menyala tidak akan menghanguskan tubuhnya. Tumpukan kayu yang menggunungi tubuhnya, dan sebentar lagi akan menjadi kobaran api tidak menggentarkan hati Shinta. Dia memang masih suci. Berbulan cengkeraman Rahwana di Alengka, tidak segundah saat dia mulai merasakan Rama tidak mempercayainya lagi. Rama, sang suami yang harus mengalahkan puluhan ksatria untuk dapat mempersuntingnya. Rama yang dicintainya sepenuh hati. Pria yang didampinginya selama empat belas tahun dalam pembuangan di hutan Dandaka. Mengapa Rama yang menentukan uji kesucian dengan membakar dirinya. Mengapa harus Rama sendiri yang memerintahkan dan mengawasi pengumpulan kayu. Mengapa Rama tidak berusaha membatalkan ujian kesucian ini. Apakah Rama memang tidak lagi mempercayai sumpah kesucian yang diucapkannya.

Bujukan Dewi Agni yang berjanji akan mendinginkan api, tidak menjanjikan kedinginan hati Shinta. Memang, tubuhnya tidak terbakar. Namun tiada penawar bagi hatinya mulai berkobar. Betapa tidak. Sebelum dibakar untuk menguji kesuciannya, dia masih sangat mengharapkan sebuah senyuman penguat hati dari Rama. Tak diperolehnya. Rama menghantarnya dengan pandangan dingin ketika menuju tumpukan kayu yang akan membakarnya. Pandangan mata itu dinilainya sangat angkuh. Dari sinar mata itu dia juga tahu, Rama ternyata mencurigai kesuciannya. Jadi kata-kata Rama yang mengatakan bahwa ujian itu semata untuk membuktikan dan menenangkan hati rakyat adalah dusta. Kalau memang Rama tidak curiga, persetan dengan rakyat. Bukankah selama ini Rama juga lebih mengutamakan pikirannya dari kepentingan dan kemauan rakyat. Mengapa kali ini berlindung dibalik nama dan atas kepercayaan rakyat.

Hangatnya lidah api yang mulai menjilati tubuhnya, telah menaikkan gairah Shinta. Gairah pengkhianatan yang dinikmatinya. Butiran keringat di kening, erangan, tarikan nafas dan geliatan tubuhnya menyambut dengan sempurna pengkhianatan itu. Mungkin dari balik kobaran api Rama bisa melihat geliatannya. Juga rona muka yang memerah. Ah. Persetan dengan Rama. Shinta telah menghadirkan Rahwana dalam angannya. Dan dia tidak merasa berdosa untuk itu. Shinta memang pernah hampir takluk tatkala ditawan di Alengka. Rahwana, raksasa berwajah dan berperangai buruk seperti gambaran semua orang, ternyata lelaki ksatria. Shinta baru sadar, Rahwana lebih ksatria dan berani menghadapi kenyataan dari pada Rama.

bersambung...

sumber: http://serasah.blogspot.com/2011/06/shinta-dan-rama.html

puteri jalanan a.k.a annur said...

sambungan...

"Ok. Aku memang berwajah dan berperangai buruk. Tidak segagah dan setampan Rama. apakah aku tak berhak untuk mencintai seorang perempuan yang kukagumi," Rahwana menyatakan cintanya terus terang.
"Mengapa harus aku. Aku sudah dimiliki Rama?"
"Mengapa harus Rama yang memilikimu, mengapa bukan aku?"
"Aku mencintai Rama, dan Rama mencintaiku"
"Apakah kau yakin dia mencintaimu ?"
"Mengapa tidak?"
"Kau ditinggal dengan seribu batasan dan kekangan. Dia pergi berburu untuk memuaskan hatinya. Apakah kau yakin Rama benar benar mencintaimu?"
Setiap pernyataan cinta yang dikeluarkan Rahwana terlihat sangat tulus. Rahwana juga enteng saja menyatakan bahwa dia hanya membawa satu bibit cinta pada saat kelahirannya. Cinta itu hanya akan disemai bila Shinta menerimanya.
"Silahkan kau tanya para dewa di kahyangan. Apa mereka ada menghadirkan wanita lain dalam kehidupanku. Aku hanya sekali menyatakan cinta pada wanita. Dan kaulah orangnya, kau harus hargai perasaanku padamu." Kata itu selalu diulang oleh Rahwana setiap Shinta menampik lamarannya.

puteri jalanan a.k.a annur said...

sambungan....

Sebagai wanita, wajar saja kalau sesaat dia hampir terlena dengan sanjungan yang langsung menyergap seluruh celah hatinya. Rahwana yang kasar. Rahwana yang jantan, namun tidak pernah berusaha memaksakan kehendak syahwatnya. Rahwana yang sangat menghargai kewanitaannya. Rahwana yang sanggup menculiknya dari Rama sang raja perkasa hanya karena tergoda cinta. Kalimat itu kembali tergiang di telinga Shinta. Terngiang lagi. Kobaran api itu semakin tinggi. Gejolak benci juga semakin tinggi.
"Kau hanya simbol Shinta. Bagi Rama kau adalah simbol kekuasaan dan kegagahannya. Aku membutuhkanmu karena kau memiliki segala keagungan, ketabahan, kesetiaan dan cinta yang didambakan laki-laki. Dalam sayembara perebutanmu, Rama bukan hanya berhasil memboyongmu ke Ayodya. Dia juga sangat menikmati kemenangan itu. Rama tak akan pernah bisa jujur menyatakan mana yang lebih membahagiakannya, memiliki kau sebagai hadiah atau memenangi pertandingan itu sendiri. Agar kau tahu, aku bertanding dengan kebenaran dan sejarah untuk merebut hatimu. Aku sadar berada dipihak yang kalah. Dewa-dewa tidak pernah berpihak kepadaku. Besarnya pengorbanan diriku untuk merebut cintamu juga akan dicatat sejarah", kata kata itu diucapkan Rahwana dengan sungguh sungguh. Rahwana tidak menujukkan kekuasaannya sebagai maharaja di Alengka. "Cinta yang tulus harus bebas dari tekanan dan kekuasaan", begitu yang selalu diucapkan Rahwana.

puteri jalanan a.k.a annur said...

sambungan...


Kobaran api masih tinggi. Dari balik jilatan lidah api Shinta dapat melihat gambaran kecemasan dari wajah-wajah rakyat yang menyaksikan kesuciannya. Wajah yang selalu menyanjung dan menyayanginya. Mereka semua kagum atas ketabahan Shinta mengikuti Rama dalam pembuangan. Mereka khawatir dan cemas Shinta akan hangus dalam api. Wajah kecemasan itu tidak terlihat pada Rama. Yang terlihat hanya keangkuhan dan kepuasan hati. Angkuh sebagai raja yang telah berhasil menghancurkan Alengka dan membunuh Rahwana yang coba-coba menculik isterinya. Puas karena Shinta terpaksa harus diuji kesuciannya. Pantang Rama makan sisa. Wajah yang anggun dan berwibawa bagi rakyat. Tanpa rasa dan cinta bagi Shinta.

Panas api membara. Panas membara hati Shinta. Kebencian itu tak tersembunyikan lagi. Menyelimuti hati, mengaburkan mata. Perlahan wajah Rama terlihat berubah menjadi wajah Jatayu yang mengerang kesakitan karena sayapnya patah dipukul Rahwana. Kemudian berubah lagi menjadi wajah Hanuman. Ah, kera yang kocak itu kini telah tiada. Terakhir kali dia melihatnya di Alengka. Kera itu menyerahkan cincin Rama, dan Shinta memberikan tusuk kondenya pertanda dia masih selamat. Apakah dia dicurigai terselingkuh karena menyerahkan tusuk konde yang biasanya dijadikan senjata terakhir wanita untuk bunuh diri bila dicemari. Kejamnya kecurigaan itu. Buat apa dia bunuh diri? Rahwana tidak pernah menyentuh tubuhnya.

puteri jalanan a.k.a annur said...

"Aku meminta kau jadi isteriku. Bukan memaksa. Aku ingin hatimu, bukan badanmu," Rahwana mengatakan hal itu sewaktu dia dipanggil dalam status tawanan, dengan diiringi beberapa dayang kedalam taman istana Alengka. Tidak di kamar. Memang. Belum pernah sekalipun Rahwana memaksa masuk ke kamarnya seorang diri. Harga dirinya sebagai wanita tetap dihargai tinggi oleh Rahwana. Rahwana tidak pernah mengambil tusuk konde itu karena curiga akan digunakannya sebagai senjata bunuh diri. Rahwana juga tidak curiga Shinta akan menggunakan tusuk konde itu untuk membunuhnya.

Kini Shinta sangat sadar bahwa kecurigaan pandangan Rama ternyata lebih menakutkan dari wajah Rahwana. Rahwana sang raksasa berwajah bengis tidak pernah mencoba untuk memperkosanya. Rahwana memiliki kesempatan dan kekuasaan untuk berbuat semaunya atas diri Shinta. Dia tidak manfaatkan. Shinta terlalu angkuh dan juga terlalu setia dengan Rama. Rama yang kini tega memanggangnya dalam gejolak api membara. Rama yang selalu menuntut pengabdian dan kesetiannya. Rama yang selalu menganggapnya sebagai isteri, tak pernah sebagai kekasih.

puteri jalanan a.k.a annur said...

Tumpukan kayu bakar mulai berkurang dimakan api. Tetapi tumpukan dendam dan benci dalam hati Shinta terhadap kecurigaan Rama justru makin tinggi. Shinta mendoakan semoga semua korban yang mati terbunuh dalam peperangan Alengka dan Ayodya tidak mengutuk dirinya. Para korban itu harus tahu, mereka mati untuk Ayodya dengan Ramanya, bukan untuk Shinta. Kumbakarna mati bukan membela Rahwana tetapi mati untuk Alengka. Sebagaimana juga Indrajit mati karena menjadi rakyatnya Rama, bukan untuk merebut Shinta. Ribuan mahkluk telah mati untuk mempertahankan prinsip, kepercayaan, harga diri dan keangkuhan. Rahwana juga mati karena para dewa lebih berpihak pada Rama. Shinta mendoakan mereka dan sekaligus merapalkan penjelasan, pada posisi kematian mereka, Shinta hanya pelengkap untuk sejarah bukan jadi penyebab.
"Ah kasihan kau Rahwana," Shinta mengeluh dan menghadirkan terus bayang wajah Rahwana. Wajah sang pemuja. Pemberi sanjungan yang belum pernah diterimanya dari Rama. Gemeretik kayuan yang terbakar, meningkatkan irama pengkhianatannya terhadap Rama. Naik semua hasrat birahi menjulang bersama asap. Naik semua penyesalan yang telah mengabaikan cinta Rahwana. Cinta yang dibuktikan dengan upaya penculikan serta ucapan yang membara dan sangat menggoda. Disertai tarikan nafas dalam Shinta berharap Rahwana dapat menyambut penyesalannya "diatas" sana.

Satu satu bara api mulai padam. Satu satu bara birahi Shinta juga padam. Shinta tertidur lelap. Wajah Rahwana membuai dalam impiannya. Puas. Puas. Shinta dapat membuktikan bahwa kesuciannya memang tidak ternoda. Puas meraup arti cinta sejati dari bayang Rahwana. Api yang bernyala memang tidak mampu menghanguskan tubuhnya. Hanya kepercayaan dan cintanya kepada Rama yang menjadi abu. Dia tetap jadi Shinta, lambang cinta dan kesetiaan. Tetapi tidak ada yang tahu, cinta Shinta juga ada bagi Rahwana. (Jaya Arjuna)

puteri jalanan a.k.a annur said...

oklah korang...ni antara kisah yang best untuk dibaca...ttg kebenarannya ntahla annur pun tak tahu...mungkin ini lebih kepada penjiwaan watak sita tu sendiri oleh penulis Jaya Arjuna...sesapa nak tgok blog dia,annur ada letak link atas tu...apapun dia menulis dgn baik,penuh emosi,dan terselit kebenarannya...apapun,walaupun rama dan sita dianggap pasangan agung,tapi tetap masing2 ada kesalahan masing2...cinta tiga segi,beginilahhhh....nak buat cmana...apapun untuk sebuah kisah cinta,mereka bertiga mmg pelakon yang hebat! annur puji...hmm....

puteri jalanan a.k.a annur said...

annur pernah tanya pendapat dhada berkenaan rama sita ni...dhada kata,dia lagi tabik pada cinta rahwana daripada rama...tapi dia tau,rama juga sebenarnya sangat mencintai sita,tapi kehidupannya terkekang,sapa yang mengerti...annur kata yeke...bg annur,rama tu pengecut,tak kisah dia nak kata apa,annur nak jugak kata dia pengecut...seorang manusia yang konon bergelar raja tapi gagal merajai hati sendiri...kalah pada ego...kan malu?annur tau,kalau saudara purba ada ni,dia mesti backup rama punye...pigidaaa...

rama tu tak ubah seperti rama2...nampak cantik,tapi berterbangan tanpa hala tuju...mencari bunga hanya untuk sekadar permainan...annur takda sebarang respek untuk lelaki mcm ni,minta maaf...

puteri jalanan a.k.a annur said...

korang kena tahu,ada sebab kenapa ujian api ni dilakukan...bukan sebab nak menguji kesetiaan sita...sebenarnya sebab rama ni seorang lelaki yang kejam...tapi pura2 depan rakyat...rama sebenarnya nak bunuh sita...dengan kepala baran yang dia ada,annur pasti dia fikir buat apa sita nak takut kalau benar dia tak bersalah kan?dah ternyata sita mmg suci...rama ni jahat,jahat,jahat...annur benci dia...annur sayang sita je...

rahwana tu cuma watak tengah2 diantara cinta rama dan sita ni...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...